Jilid 1 Bab 2: Hari-harinya dengan Teman Masa Kecil + Pemakan Manusia (4/18)

Aku bermimpi. Mimpi derita di dalam kegelapan. Aku dihajar tanpa bisa melawan. Yang kudapatkan hanyalah penderitaan … namun hal itu berakhir tanpa kuduga. Kepala dari orang-orang yang memukuliku tiba-tiba putus dan berguling.

Selain itu, mereka menjerit.

Namun ini bukanlah sebuah akhir …, aku sadar bahwa ini adalah sebuah awal.

 

“!?”

Aku bangun terkejut.

“Mimpi, ya?”

Ini cara bangun terburuk. Seluruh tubuhku basah dikucuri keringat … ditambah lagi tubuhku nyeri. Entah kenapa tubuhku tertidur di atas lantai. Kemudian saat aku memikirkan penyebab diriku tertidur di atas lantai … begitu rupanya, aku tersadar kalau mimpi buruk tadi tidaklah salah. Dari celah selimut menongol sebuah paha dan tengkuk …, itulah penyebab mimpi burukku.

“Padahal akan lebih baik bila itu hanya mimpi ….”

Namun Kuroe tertidur sambil membulatkan tubuhnya di kasur Tooya. Itu merupakan kenyataan yang tak bisa kupungkiri, semua yang terjadi kemarin juga kenyataan, ujar Tooya pada dirinya sendiri.

“Hu, mm …. Sudah pagi, ya?”

Ia terbangun. Masih telanjang seperti kemarin, Kuroe terbangun dengan santainya. Tergesa-gesa, Tooya berdiri memalingkan matanya.

“Aku akan keluar, kenakan pakaianmu dulu.”

“U, mm ….”

Mendengar respon tanpa tenaga di belakangnya, Tooya keluar dari kamar. Tidak ada tanda-tanda kalau dirinya sedang dipermainkan seperti kemarin … atau mungkin saja Kuroe memang lemah di pagi hari.

“… Selesai.”

Mendengar itu, ia kembali ke kamar dan Kuroe telah patuh mengenakan pakaiannya. Dilihat dari mukanya, tampaknya Kuroe masih mengantuk.

“Kali ini giliranku yang ganti pakaian.”

Pada akhirnya aku tertidur masih dengan seragamku. Meski seragamnya masih bisa dimaklumi, setidaknya aku ingin mengganti pakaian dalamku yang terlanjur basah oleh keringat.

“Um.”

Kuroe mengangguk.

“….”

Tunggu, kenapa Kuroe tidak bergerak?

“Eh, aku ingin ganti pakaian.”

“Um.”

Kuroe mengangguk.

“……”

Tapi Kuroe tetap tidak bergerak.

“Eh, aku ingin ganti pakaian.”

Aku mengulangnya.

“Um.”

Kuroe mengangguk … namun tidak bergerak.

“Begini, aku ingin kau keluar karena aku ingin ganti pakaian.”

“Ganti saja pakaianmu …, saya tidak keberatan.”

“Tapi aku yang keberatan!”

“Hm …?”

Aku menjerit … namun Kuroe memiringkan kepalanya dengan mata mengantuk.

“… Majikan sudah melihat saya telanjang, ‘kan?”

“Ap―!?”

“… Tapi kenapa Majikan tidak mau memperlihatkan tubuhnya tanpa busana?”

“Kau sendiri yang memperlihatkan tubuhmu seenaknya!”

Aku menjerit mengeluarkan alasan.

“… Majikan sangat dingin ya.”

Kuroe menggerutu pelan.

“Bukan, bukan masalah dingin atau tidak ….”

“Pelit.”

Kuroe mencibir mulutnya seakan cemberut, dan menghadap ke arah pagi.

“Meski saya ini perawan, saya tidak tertarik dengan tubuh telanjang dari pria muda.”

“Aku tak mau mendengar kata perawan dari mulut siluman yang sudah hidup ratusan tahun ….”

Disamping itu, Kuroe malah menggeleng kepalanya dan mengucap ‘astaga.’

“Majikan tidak mengerti perasaan perawan ya.”

“Dibanding perasaan perawan, yang kulihat di depanku hanyalah anak kecil yang mau membedah seekor katak.”

Aku bisa melihatmu cengar-cengir, tahu.

“… Tapi omong-omong, tampaknya matamu sudah terbuka sepenuhnya.”

“Um.”

Dengan cepatnya Kuroe mengangguk.

“… Huu.”

Setelah kudorong, kutarik lagi napasku … lalu menjerit.

“Keluar sana!”

“Hm, siap laksanakan.”

 

Tanpa memasang rasa malu di wajahnya, Kuroe keluar dari kamar.

“Majikan, saya punya satu permintaan.”

Setelah terusir beberapa waktu, Kuroe kembali dan tiba-tiba mengatakan hal tersebut.

“… Apa?”

Kusiapkan diriku. Meski sebelum dan sesudah tidur hawa jahatnya hilang, aku tidak lupa bahwa makhluk di depanku ini adalah sosok yang bisa membunuh dengan mudah.

“Setelah ini aku ingin diberi kebebasan selama satu jam.”

“… Kaupikir aku akan mengizinkannya?”

Karena melepaskan mataku darinya itu mengerikan, aku menyuruhnya untuk tidak jauh-jauh dariku.

“Saya tidak akan menyakiti orang lain.”

“… Kau tak bisa dipercaya.”

Mana mungkin aku bisa memercayainya.

“Hm … tapi ini demi kebaikan Majikan juga.”

“Demi … kebaikanku?”

Tooya ingat kalau kemarin dirinya dibilang seperti itu.

“Majikan akan pergi ke sekolah, bukan?”

Saat kuperiksa waktunya, jam masih menunjukkan pukul 07:30. Biasanya aku berangkat dari rumah pada pukul 08:00. Perlu sekitar 20 menit untuk sampai ke sekolah …. Sebenarnya tidak masuk sekolah hari ini pun aku tidak keberatan karena kejadian kemarin.

“Tidak, tidak, sebaiknya Majikan masuk sekolah saja.”

Kuroe menyengir lebar.

“Majikan tidak ingin dicurigai, bukan?”

“Dicuri, gai …?”

Tanpa mengerti maksudnya, Tooya menatap Kuroe lagi.

“Itu loh, soal tiga orang kemarin. Bakal merepotkan kalau Majikan dicurigai, bukan?”

“!?”

Wajah Tooya membeku.

“Saya tak perlu mengatakan ini tapi mereka tidak akan kembali lagi. Saat mayat mereka ditemukan, kegaduhan akan timbul untuk beberapa waktu, bukan? … Di saat itulah, bukankah yang paling dicurigai adalah Majikan?”

Tiga orang. Tiga orang yang memukuli Tooya … dan dimakan oleh Kuroe. Tampaknya hilangnya mereka setelah beberapa hari ini akan menimbulkan kegaduhan.

Tentu saja, mereka bukannya menghilang … tapi dimakan. Mana mungkin orang mati itu bisa ditemukan.

Namun meski tidak ditemukan, penyelidikan akan tetap dilakukan. Saat penyelidik memikirkan alasan kenapa tiga orangnya tidak ditemukan, penyelidikannya akan berganti arah … dan di saat itulah yang akan dicurigai adalah Tooya. Itu sebabnya, Tooya tidak boleh bolos dari sekolah di hari ketiga orang itu menghilang.

“Itu … lalu apa hubungannya dengan memberikan Kuroe kebebasan?”

Tooya bersuara seakan mengerang.

Tentu ada.

Kuroe mengangguk.

“Bila Majikan ke sekolah, bukankah artinya saya juga harus ikut?”

“Ah.”

Tentu saja itu wajar karena aku memberinya perintah untuk tidak jauh-jauh dariku. Tetapi mana bisa aku tiba-tiba membawa masuk makhluk asing ke sekolah … namun aku juga takut kalau terus-terusan membiarkan Kuroe bebas selama aku sedang di sekolah.

“Bila diberi satu jam, saya akan atur tempatnya agar tak ada masalah sekalipun saya ikut ke sekolah.”

Tak ada pilihan lain. Bila kutolak memberinya kebebasan selama beberapa waktu di situasi ini, nantinya aku bakal tak bisa mengawasi Kuroe untuk waktu yang lebih panjang lagi di tempat yang tak terjangkau olehku. Tidak masuk sekolah mungkin adalah pilihan yang terbaik … namun risiko yang dikatakan Kuroe juga ada benarnya, apalagi kalau tidak masuk terus-terusan.

“… Baiklah.”

Oleh karena itu, aku hanya bisa mengangguk. Aku hanya bisa mengangguk dan percaya padanya. Walaupun makhluk di depanku ini sosok mengerikan pemakan manusia, yang bisa kulakukan hanyalah percaya dan percaya padanya … tapi kemudian aku tersadar.

“Kuroe …, kau itu pernah disegel, ‘kan?”

“Iya, kenapa?”

Aku ditanya balik.

“Tapi kalau kulihat, kok kau tidak terlihat bingung?”

“Bingung?”

“Soalnya kau itu sudah tersegel ratusan tahun, bukan?”

Meski begitu Kuroe tampak normal. Ratusan tahun yang lalu dengan saat ini harusnya sangat berbeda. Namun Kuroe sama sekali tidak menampakkan tanda-tanda bahwa dirinya sedang bingung, terkejut pun tidak. Sepanjang apa pun Kuroe menjalani hidupnya dengan memakan manusia, ia tampak terlalu santai.

“Hm, begitu rupanya.”

Kuroe bergumam kecil pada pertanyaan Tooya yang merasa tidak yakin.

“Jawabannya mudah, soalnya saya sudah mengetahui isi dunia saat ini.”

“… Bagaimana bisa?”

Padahal ia tersegel.

“Saat tersegel, suara saya terdengar oleh Majikan, bukan?”

“… Ya.”

“Menurut Majikan, bagaimana saya melakukannya?”

“Dengan telepati atau semacamnya?”

Suaranya kemarin terdengar langsung di dalam kepalaku.

“Bukan, bukan seperti itu.”

Kuroe menggeleng kepalanya.

“Bukan masalah caranya, tapi tahap sebelumnya.”

“… Tahap sebelumnya?”

“Benar, ada hal yang diperlukan sebelum saya bisa memanggil Majikan.”

Aku berpikir. Tentunya dibutuhkan suara untuk memanggilku, namun yang dibilang Kuroe jauh sebelum itu adalah … pihak lain. Ya, pihak lain. Sekalipun ia mengeluarkan suara, tapi kalau tak ada pihak lain yang mendengarnya, rencananya tidak akan berjalan. Namun untuk menyiapkan pihak lain tersebut ….

“Kalau pihak lainnya tidak terlihat, tidak bisa ya.”

Kalau tak ada pihak lain yang akan mendengarnya, Kuroe tak bisa memanggilnya.

“Tepat sekali. Ratusan tahun telah berlalu semenjak saya disegel sehingga segelnya melemah, itu sebabnya saya bisa mulai ikut campur di dunia luar. Selain telepati, tentu saja saya punya kemampuan menerawang, dengan cara itulah saya bisa mengetahui aspek dunia saat ini.”

Itu sebabnya ia tidak bingung atau terkejut.

“Karenanya, tidak perlu khawatir.”

Kuroe bilang.

“Semuanya akan saya selesaikan dengan cara yang bersahabat dan tanpa masalah.”

Ucapannya itu tak dapat meyakinkan kecemasan seseorang … namun aku tak punya pilihan selain meyakinkan diriku.

“… Baiklah.”

Aku mengangguk lagi.

Kemudian, Kuroe memasang senyumnya.

“Kalau begitu, saya akan kembali.”

Dalam sekejap, ia keluar dari kamarku.

Kemudian, hari-hariku yang normal telah kembali … tentunya aku tahu itu hanya berlaku selama satu jam saja. Akan tetapi sosok Kuroe tidak kelihatan, itu saja sudah cukup membuat hatiku lega.

Kucuci mukaku seperti biasanya, dan kumakan sarapanku seperti biasanya. Mungkin karena efek dari ilmu Kuroe, kedua orang tuaku tidak menanyakannya walau Kuroe sedang tidak ada.

 

“Aku berangkat.”

Jam menunjukkan pukul 08:00, aku pun berangkat dari rumah. Kuroe masih belum kembali. Karena dia bilang satu jam, apa ia akan kembali setelah satu jam persis? Yah, mungkin ia akan menyusup sebagai murid pindahan atau staf sekolah …, hal seperti itu sering kali terjadi dalam cerita-cerita.

“… Haa.”

Kudesahkan napasku. Apa pun caranya, tidak diragukan lagi kalau Kuroe akan masuk ke sekolah. Ia tak bilang kalau aku harus menunggunya … namun dengan tak ada dirinya di sampingku, aku bisa merasa damai; di saat bersamaan, aku juga khawatir dengan apa yang dilakukannya sekarang.

“… Huu.”

Sekali lagi kudesahkan nafasku. Apa pun yang terjadi nanti, yang bisa kulakukan sekarang hanyalah ke sekolah …. Bagi Tooya, sekolah pun bukan tempat yang damai untuknya.

“Tooya-kun.”

Suara yang menyapanya membuat Tooya terdiam sesaat, setelah itu ia menengok ke belakang.

“… Rikka.”

Wajah yang tak asing berada di sana. Ia teman masa kecil Tooya yang bertetanggaan dengan rumahnya. Berlawanan dengan Kuroe yang memakan manusia, Rikka menatap Tooya dengan ekspresinya yang penasaran. Melihat tubuh kecil yang diimbangi wajah bayinya itu, Tooya yang merasa tidak enak, menekan lidah kecilnya sehingga menghasilkan suara ‘cih.’

“Memarmu, jangan ditutupi.”

“!?”

Rikka yang berwajah terkejut mengeluarkan cerminnya. Kuperiksa diriku yang terefleksi, dan wajah tersebut sedikit terdistorsi. Dari pipi yang terputihi oleh alat rias, terlihat sedikit sesuatu yang seperti memar.

“… Nanti kuobati di toserba tengah jalan.”

Tidak mungkin aku bilang akan pulang dulu dan mengobatinya.

“Aku tak bisa bareng denganmu.”

Saat Tooya mengucapkan itu, Rikka memasang ekspresi seakan ingin menangis. Selain itu, Tooya mengerutkan wajahnya.

“… Jangan bicara padaku di sekolah. Sudah pernah kukatakan, bukan?”

khn_01_052

“Tapi, ini bukan di sekolah.”

Rikka membalas dengan agak keras.

“Sama saja, kita kan sedang pakai seragam.”

Perjalanan ke rumah lagi bakal seperti sebuah perjalanan yang panjang.

“Kalau begitu aku duluan …. Jangan ikuti aku.”

Tooya berjalan cepat. Sesuai ucapan Tooya, Rikka tidak mengikutinya lagi …. Namun setelah beberapa langkah, Tooya menghentikan langkahnya. Karena ia sudah bersama Rikka sejak kecil, ia bisa tahu suasana di belakangnya.

“… Haa.”

Setelah berbalik, wajah yang dipasang Rikka memang sesuai dugaannya.

“Ah, duh, jangan menangis dong.”

“… Aku tidak menangis.”

Padahal ia mengertakan gigi dan menahan air matanya.

“Iya, aku paham. Kalau sampai toserba saja, aku tak keberatan.”

Tooya mengucapkannya seolah menyerah …, wajah Rikka pun berbinar seketika.

“Un, tak apa kalau begitu.”

“… Haa.”

Kudesahkan napasku. Letak toserba dari sekolah masih cukup jauh. Peluangku dilihat sedang bersama Rikka oleh orang lain tentunya kecil.

“Apa boleh buat, ya ….”

Memar di pipinya masuk dalam pandangan Tooya.

Tooya memalingkan matanya dari sana, dan mulai berjalan.

“Terus, kucing itu sangat imut loh.”

“… Heeh.”

Sambil berjalan cuek, Tooya meresponnya dengan setengah hati. Rikka mencoba memulai pembicaraan dengannya, namun Tooya tidak berniat menjawabnya. Lagian, Rikka juga tidak membenci responku. Dengan egoisnya Tooya beranggapan kalau inilah yang terbaik untuknya. Yah, semua yang terjadi kemarin jadi terasa tak berarti sih … tapi aku juga tak bisa langsung melupakannya.

“Aku juga ingin coba memelihara kucing.”

“… Memeliharanya pasti berat. ”

Sambil menjawab, Tooya berpikir kalau itu mustahil. Aku tak bisa bilang kalau lingkungan di rumah Rikka yang sekarang tidak cocok untuk memelihara hewan …, hal ini tentunya sudah dipahami oleh Rikka sendiri. Tapi berbicara sendiri bisa membuat hati sedikit lega …, mungkin itulah alasannya.

Kemudian, Tooya melakukan hal yang sama.

“Kurasa memelihara anjing lebih ringan.”

Dalam sesaat, Rikka seakan terkejut melihat Tooya … namun Rikka langsung tersenyum.

“Un, anjing juga imut kok!”

“Contohnya chihuahua.”

“Kalau itu sih sangat tidak imut. Matanya suka melotot pula.”

“… Oh, begitu.”

Tampaknya selera Rikka cukup sulit.

“Kalau anjing, aku lebih suka husky. Besar dan bulunya sangat lembut.”

“Biar kutanya lagi, kenapa kau malah pilih hewan yang sulit dipelihara …?”

“Soalnya aku suka sih.”

“… Begitu, ya.”

Kalau memang sukanya itu, apa boleh dibuat.

“Hei, Tooya-kun.”

Tiba-tiba Rikka memasang ekspresi serius.

“Apa ada masalah?”

“… Kenapa kau bertanya seperti itu?”

Tooya mengerutkan keningnya seakan telah tertangkap basah.

“… Kalau yang kaumaksud adalah desahan napasku, setiap hari juga aku begitu.”

Tooya menjawab lagi.

“Kalau ditanya ‘apa ada masalah,’ tentunya tiap hari juga ada. Rikka, kau juga memahaminya, bukan?”

“… Un.”

Rikka yang tampak sedih mengangguk.

“Itu sebabnya tak ada yang perlu Rikka cemaskan. Dibandingkan denganku, situasimu lebih berat soalnya.”

“…… Kau, benar.”

Rikka bergumam pelan.

“Itu toserbanya.”

Tooya berkata seolah mengakhiri percakapan. Di dalam pandangannya sudah terlihat toserba.

“Pergilah duluan. Aku akan menyusul.”

“… Un.”

Rikka mengangguk meski sedikit ragu. Aku terhenti sebentar, kemudian kulangkahkan kakiku ke arah toserba.

“Rikka.”

Tooya memanggil ke arah belakang.

“Jangan memanggilku di sekolah, loh.”

“… Un.”

Rikka menjawab tanpa menengok ke belakang. Karena itu aku jadi tidak tahu ekspresinya … tapi yah, menebaknya sangatlah mudah.

“Sampai jumpa.”

“Un, sampai nanti.”

Karena kami sekelas, kami akan langsung bertemu lagi.

 

Tapi saat tiba di sana, tentunya tidak ada lagi yang perlu kami bicarakan.