Prolog – Kontraknya dengan Pemakan Manusia

Aku dihajar. Disiksa. Dicaci maki. Aku tidak ingat kenapa bisa jadi begini. Kurasa penyebabnya hanya hal sepele. Hanya saja, hal sepele tersebut sudah cukup untuk memicu kejadian ini. Toh asalkan penyebabnya ada, siapa pun bisa jadi begini, bukan?

*Buk*

Punggungku ditendang. Jumlah mereka banyak. Meski refleksku tidak begitu buruk, aku tak pernah belajar ilmu bela diri, makanya aku tak bisa membalikkan keadaan ini dengan jumlah mereka yang banyak. Oleh karena itu, yang bisa kulakukan hanyalah meringkuk dan bertahan.

“Kau itu menjengkelkan, tahu!”

“Mengganggu pemandangan!”

“Mati saja kau, sampah!”

Bahasa kasar dan aksi kekerasan terus berulang. Awalnya menyakitkan, tapi manusia bisa terbiasa nantinya. Setelah terbiasa, sisanya tinggal menahannya. Palung sungai ini bukan tempat yang ramai orang. Mau bagaimanapun aku menjerit meminta pertolongan, tidak akan ada yang datang.

Tapi itu tak sepenuhnya benar.

“?”

Aku mendengar suara lain bercampur dengan bahasa kasar … tidak, pasti hanya bayanganku saja. Yang terpenting sekarang adalah fokus bertahan. Dihajar terus menerus ternyata cukup melelahkan. Apalagi sambil menjerit kesakitan, pasti akan tambah lelah. Asalkan aku bisa bertahan, cowok-cowok itu pun bakal lelah juga.

“Benarkah begitu?”

… Aku mendengar suaranya lagi. Apa ini halusinasi suara? Ataukah ini yang dinamakan suara hatiku sedang menyangkal kenyataan yang ada?

“Tidak, tidak, saya ini bukan suara hatimu.”

Jawabanku disangkal. Kalau begitu kau itu apa?

“Saya? Saya Kuroe …, seorang monster.”

Sekalipun halusinasi suara, ini sudah di luar nalar.

“Yah, terserah kau saja … tapi kalau terus begini, kau bisa mati loh.”

… Aku tak akan mati. Mereka tidak punya nyali untuk melakukannya sampai sejauh itu. Asalkan aku bertahan, ini pasti akan berakhir.

Itu mustahil.

Halusinasi suara itu menjawab. Dengan penuh percaya diri.

“Cih, tidak kapok juga.”

Aku mendengar suara tangannya berhenti memukul. Aku tak tahu situasinya karena sedang meringkuk, tapi bulu kudukku seakan berdiri merasakan hawa yang tidak mengenakkan.

“Oi, itu terlalu berlebihan ….”

“Berisik!”

 

*Buk*

 

Aku dihantam.

“Gah!?”

Aku tak tahu apa yang terjadi. Rasa sakit yang dahsyat terasa di punggungku. Apa tadi itu … kepalan kanannya? Itu bukanlah hantaman yang bisa ditahan oleh manusia. Kemudian rasa sakitnya berlanjut … ke tulangku? Bisa-bisa organ dalamku terluka …. Hawa kematian yang tadinya tidak terasa, mulai terasa jelas.

Tuh, sudah saya katakan, bukan?

Halusinasi suara itu berbicara seakan mencibirku.

“Akan kuhantam dia sekali lagi.”

Kata kematian terdengar lebih cepat daripada ucapannya. Kalau tidak kabur bakal gawat. Ini bukan saatnya mengatakan “bertahan” dengan santainya …. Tapi tubuhku tidak bisa bergerak. Selain menerima serangan sengitnya, bagian tubuhku yang dihantam oleh kepalan tangannya yang keras juga tak bisa digerakkan.

 

*Buk*

 

Aku dihantam. Kesadaranku yang hilang kembali lagi oleh rasa sakit yang luar biasa. Mati. Kalau begini terus aku pasti mati. Tapi tanpa menggerakkan tubuhku, pertolongan tak akan datang.

Itu tidak benar.

Halusinasi suara itu menjawabnya.

Saya akan menolongmu. Tapi kau harus menjalin kontrak denganku.

Itu cuma halusinasi suara.

Cuma halusinasi suara, tapi ….

“Ku, jalin … kontraknya.”

Lagi pula tubuh ini sudah akan menjadi mayat.

“Tolong … a, ku ….”

Tak ada pilihan lain selain bergantung padanya.

Baiklah kalau begitu.

Aku merasa suaranya tertawa.

Kemudian … jeritan pun muncul.

Saat kubuka mataku, semua di sekitarku gelap.

“… Loh, kok?”

Sensasi pertama yang kuingat adalah rasa sakit. Padahal sudah dihajar habis-habisan, tapi rasa sakit di tubuhku sama sekali lenyap … termasuk punggungku yang dihantam oleh tangan kanannya yang keras. Kupastikan dengan merabanya, tapi bagian punggungku yang mengingat sensasi tersebut tidak kutemukan.

“!”

Dengan tergesa-gesa kulihat sekelilingku, namun tak ada tanda-tanda manusia … termasuk tiga orang yang seharusnya sedang menghajarku tadi. Cahaya pagi tidak ada, namun malam ini bulannya terlihat. Jarak pandang yang bisa kujangkau lumayan cukup.

Cahaya bulan menerangi aliran sungai dan rerumputan pendek. Sebuah kuil kecil antik yang belum lama ini bergelinding di atas tanah. Saat menengok ke atas, kulihat bendungan dan tak ada sosok manusia berjalan di atasnya, cahaya kota sama sekali tidak tampak karena terhalang itu.

“Mimpi …?”

Tidak salah lagi, aku berada di palung sungai tadi. Tapi tak ada luka pada diriku, sosok ketiga orang yang menghajarku juga tidak terlihat, berarti sudah bisa dipastikan,

“Begitu rupanya, hanya mimpi, ya?”

Aku lega.

“Mana mungkin begitu, bukan?”

*Deg* Bulu kudukku merinding.

Saat menengok ke belakang, di sana ada perempuan berdiri. Usianya tidak begitu berbeda dariku. Keseluruhan penampilannya seperti boneka Jepang dengan rambut panjang dan hitam. Ia melihat kemari, perempuan itu tersenyum tanpa busana … namun ia seakan tidak memedulikannya. Pupilnya. Pupil matanya yang bersinar keemasan dalam kegelapan itu sangat mengagumkan, saat itu mataku tak bisa terlepas darinya.

“Eh, kenapa ….”

Dengan kagetnya aku tersadar. Harusnya tidak ada orang di sini. Aku sudah melihat sekelilingku tadi …. Sekalipun ia datang dengan berlari, ini terlalu mendadak. Mana mungkin aku tidak menyadari seseorang yang baru saja datang dengan berlari?

“Dari awal saya sudah di sini. Kaunya saja yang tidak melihatnya.”

Bohong, nalarku bilang begitu. Meskipun tadi aku sedikit kalut, kesadaranku sangat jelas. Harusnya aku tidak melewatkan orang yang berdiri sedekat ini … di situlah aku tersadar. Entah sejak kapan, ada sesuatu seperti lubang dan bergantung di tangan kanan perempuan itu. Benda seperti tali yang digenggamnya itu sambungan dari … gantungan?

“Itu … apa?”

Suaraku tidak keluar dengan lancar.

“Oh, inikah?”

Perempuan itu menyodorkan dan memperlihatkannya padaku.

“Kurasa lebih mudah bila melihatnya secara langsung, biar saya berikan satu.”

Ia melemparnya.

“Hii …!?”

khn_01_010

Benda yang bergelinding di depanku itu melihat ke arahku. Matanya terbuka sangat lebar, dan matanya itu terpasang di wajah yang tidak asing bagiku.

“Betul sekali. Dia cowok yang menghantammu dengan tangan kanannya.”

Dengan “kukuku,” perempuan itu menyeringai. Jarak pandangku mengabur, kakiku kehilangan tenaga. Bokongku terjatuh di atas tanah yang lembab, dari garis pandang yang rendah ini aku melihat mata dan kepala itu lagi. Jaraknya semakin mendekat, dan wajahnya semakin jelas terlihat. Satou Hideaki dari 2 kelas di sebelah kelasku. Orang yang tadi menghajarku … kenapa kepalanya terputus dan melihat ke arahku?

“Kontraknya … sudah terjalin, bukan?”

Perempuan itu menyeringai.

“Makanya saya menolongmu.”

Pemahamannya.

Kusangkal.

Pikiranku terhenti. Sementara aku memahami arti dari ucapan tersebut, kesadaranku ingin menyangkalnya. Meski begitu, makna tersebut mulai timbul seakan menembus diriku.

Halusinasi suara.

Proposal darinya.

Meminta persetujuanku.

Akibatnya.

Kepala putus.

Ini artinya, ini artinya, ini artinya, ini artinya, ini artinya ….

“Ha, haha …. Bagaimana bisa?”

Aku mencari sesuatu yang bisa menyangkal dan mengucapkannya meski hanya sedikit … ini sangat tidak masuk akal. Tapi akibatnya sudah ada di depan mataku, hal mendasar seperti itu tidak bisa kusangkal lagi.

Lebih tepatnya, pertanyaan seperti itu sudah tak ada artinya. Yang berdiri di depanku adalah perempuan langsing. Tangannya kosong, tidak memegang senjata apa pun. Dengan tangannya itu, ia berbuat sesuatu pada ketiga berandalan itu … tapi harusnya tidak bisa sampai memutus leher mereka … namun, ia menyeringai.

Perempuan itu menyeringai. Senyumnya … seakan meyakinkan ucapannya itu.

“Dengan cara ini.”

Bentuknya berubah. Sosok perempuan itu berubah. Dari dalam dirinya seolah-olah timbul sesuatu, lalu penampilannya berubah. Hukum fisika pun seakan lenyap entah ke mana. Jelas sekali terlihat kalau massanya berubah melebihi massa aslinya.

“A, ah ….”

Suaraku tak keluar. Yang berada di sana sekarang raksasa … ya, serigala raksasa. Ukuran tubuhnya sekitar 5 meter. Seluruh tubuhnya diselimuti bulu hitam yang pekat, dari ujung bibirnya terdapat taring yang mengintip. Di sana sudah tak ada lagi sisa-sisa sosok perempuan … tidak, pupilnya. Hanya pupil mata emasnya yang bersinar dalam kegelapan, yang masih sama.

“Sekarang paham?”

Disahut oleh suaranya, tubuhku merinding kaget.

“A, panya …?”

“Cara saya menolongmu.”

Mana mungkin aku tidak memahaminya. Serigala raksasa itu menafsirkan ceritanya. Hanya menangani tiga orang manusia pun, ia pasti bisa melakukannya dengan mudah.

“Semuanya … kaumakan?”

“Ya, semuanya saya makan.”

Serigala raksasa itu menjawab.

“Mereka takut dan ingin lari karena kemunculan saya yang mendadak. Tanpa memberi kesempatan, saya menindas dan menjilat mereka. Yah, agar lebih mudah kaupahami, aku menyisakan jasadnya sedikit.”

Pasti yang dimaksudnya kepala putus itu.

“Tapi, ini sudah tak kauperlukan lagi.”

Seusai mengatakannya, serigala raksasa itu melahap kepala tersebut … dan mengunyahnya di dalam mulut.

“!?”

Yang menjelmai sosok manusia tadi tidak lagi memandangku.

Rasa mual datang seketika … karena tak kuat, aku berlutut dan muntah. Cairan lambung terus kumuntahkan tanpa henti, hingga isi perutku kosong.

“Hahaha, payah sekali majikan saya ini.”

Serigala raksasa itu menyeringai. Ia mencibir geli. Namun daripada merasa dipermalukan, aku lebih merasa pikiranku dirampas olehnya.

Aku tak bisa memahami maksud dari kata tersebut.

“Majikan adalah majikan saya, bukan? Soalnya kau sudah menjalin kontrak dengan saya.”

Ya, memang benar kalau suara yang kudengar saat itu ingin menjalin kontrak denganku sebagai ganti pertolongannya. Meskipun aku tahu itu hanya halusinasi suara, aku tetap menggantungkan hidupku pada hal tersebut … dan inilah akibatnya. Tetapi, aku masih tak bisa percaya. Monster yang membunuh dan melahap tiga orang itu dengan mudahnya, malah memanggilku sebagai majikannya …. Wajar saja aku menganggap harganya mengerikan.

“Cara pikirmu itu salah loh.”

Padahal mulutku tidak bicara apa-apa, tapi serigala raksasa itu tersengir.

Seakan-akan ia bisa membaca pikiranku.

“Tepat sekali, saya bisa membaca pikiran yang isinya sederhana. Khususnya pikiranmu yang sekarang sedang labil. “

Setelah mengatakannya, ia menyeringai “kukuku.”

“Sekarang kembali ke topik awal, kontrak itu memerlukan harga. Saya harus mematuhi seorang manusia untuk mempertahankan keberadaan saya.”

Bulu kudukku merinding *deg*. Kontrak. Harga. Memikirkannya saja sudah membuatku takut. Bila membaca berbagai buku dari segala tempat dan zaman, akan selalu ada harga besar yang harus dibayar untuk menjalin kontrak dengan monster.

“Kukuku, tidak usah ketakutan begitu.”

Ia membaca pikiranku lagikah? Serigala raksasa itu menyengir.

“Meski saya bilang harga, sebenarnya tidak mahal kok. Tidak, malah bila dilihat dari sudut pandang lain, Majikanlah yang mendapat keuntungan.”

Bohong, ujar hatiku. Setan selalu membisikkan kata-kata manis dan memanfaatkan celah dalam kontraknya, sehingga orang yang mengontrak dengannya bisa dihancurkan.

“Yah, itu terserah kau saja …. Tapi cepat atau lambat, Majikan tak akan punya pilihan lain.”

Benar, soalnya kontraknya sudah terjalin.

“Sebagai harga kontrak dengan saya.”

Serigala raksasa itu memberitahukan.

“Sebulan sekali, berikan saya manusia untuk dimakan.”

*Buk* Kepalaku terguncang seakan menerima hantaman keras …. Kukertakan gigiku, lalu kubuka mulutku.

“Apanya … yang menguntungkan untukku.”

“Seperti kubilang tadi.”

Serigala itu menjawab.

“Kau tak perlu menemani saya menangkap orangnya. Siapa pun bisa dimakan asalkan kauberi izin …. Setelah itu saya akan memakan orangnya.”

“Makanya kubilang, apanya yang menguntungkan!”

“Bukannya ada 1 atau 3 manusia yang ingin kaubunuh?”

“!?”

“Asal kauberikan izin, saya akan memakan manusianya … seperti ketiga orang tadi.”

Kepala tadi terlintas lagi di benakku. Sosok mayat yang terdistorsi oleh rasa takut. Sebulan sekali, aku harus memilih tumbal untuk dibunuh sebagai bentuk kompensasi yang harus kubayar …. Jadi itu yang ia maksud.

“Benar, tapi ada satu hal yang salah kaupahami.”

Serigala raksasa itu bilang.

“Harga yang dibayar tadi itu hanya untuk menjaga kontrak saya denganmu. Selain itu, sebanyak apa pun orangnya bisa kumakan asalkan diperintahkan olehmu loh.”

Ia bisa mengunyahnya dengan santai seperti roti. Namun beberapa saat yang lalu, serigala raksasa ini memakan tiga orang tadi … tapi sebenarnya, bisa saja yang dimakan itu hal lain.

“Eits, wahai Majikan …, berbohong itu tidak baik.”

Serigala raksasa ini membaca pikiranku dan menyangkalnya.

“Memang benar yang membunuh ketiga orang tadi itu saya … tapi bukankah Majikan sendiri yang membiarkan mereka terbunuh? Berpaling dari kenyataan tersebut tidaklah baik.”

“!?”

Tapi, itu ….

“Aku tidak bilang untuk membunuhnya!”

“Benarkah?”

Serigala raksasa itu melihatku, apakah ada hasrat membunuh atau tidak pada diriku. Mungkin ada, tapi bisa juga tidak ada …. Yang kupikirkan saat itu hanyalah melarikan diri.

Kenapa mereka bisa mati. Soalnya aku menjalin kontrak untuk meminta pertolongannya, dan akibatnya mereka jadi mati.

“U … geeh!”

Rasa mualku kambuh lagi. Padahal harusnya isi perutku sudah kosong, tapi dengan seriusnya aku memuntahkan cairan lambungku lagi. Aku terus memuntahkannya hingga perutku serasa diputar balik.

“Sudah selesai?”

“…”

Tanpa menunggu jawabanku, serigala raksasa itu melanjutkan.

“Saya masih belum menjelaskan bila nanti harganya tidak dibayar.”

Itu benar. Ada juga pilihan untuk tidak membayar harga tersebut.

“Apa kau, akan memakanku?”

Sekalipun harga yang harus dibayar nanti adalah nyawaku, pasti akan lebih ringan membayarnya bila aku menyiapkan mentalku terlebih dahulu.

“Tidak.”

Tetapi serigala raksasa itu menggeleng kepalanya … dan menyeringai.

“Di saat itu terjadi, orang yang kumakan akan kupilih sendiri …. Akan kuputuskan saat waktunya tiba.”

“…!?”

Aku tercengang. Itu buruk sekali. Siapa yang akan dimakannya nanti, aku tidak akan tahu. Bisa saja bukan orang asing, melainkan orang yang dekat denganku. Semuanya bergantung pada suasana hati si serigala raksasa. Aku hanya akan menunggu dalam ketakutan bila pilihanku begitu, lebih mengerikan daripada aku yang dimakan.

“Kalau tak mau seperti itu, bukannya lebih baik kau sendiri yang mempersembahkannya?”

Serigala raksasa itu bilang.

“Waktunya … oh, iya, tanggal berapa sekarang?”

“… 25 Mei.”

“Baiklah, kalau begitu kita bulatkan dan mulai dari 1 Juni.”

Ia mendeklarasikannya. Dalam satu bulan tersebut, serigala raksasa itu harus memakan manusia.

“Oh, benar juga. Saya masih belum tahu nama Majikan.”

Diingatkan olehnya, serigala raksasa itu bertanya.

“Nama … majikan?”

Tak ada pilihan, selain menjawabnya.

“Kamisaki … Kamisaki Tooya”

“Humu, nama yang bagus.”

Serigala raksasa itu mengangguk.

“Nama saya Kuroe, yang memiliki arti pakaian hitam.”

Sambil bilang begitu, serigala raksasa itu …, Kuroe, tersenyum.

“Untuk waktu yang lama, mohon bantuannya, wahai Majikan.”

“…”

Kalau dibilang begitu, aku bisa kesusahan. Aku tak mau bersama dengan monster untuk waktu yang lama.

“Astaga, jahat sekali Majikan saya ini.”

Ia membaca pikiranku dan mengangkat bahunya.

“Tapi yah, saya bisa kesusahan kalau tidak dapat bantuanmu …, pokoknya sekarang kita ke rumahmu dulu.”

“Apa!?”

Tanpa sengaja aku bersuara.

“Malam sudah begitu larut. Masa mau terus berbicara di tempat seperti ini?”

Memang benar yang dia bilang.

“Atau, kau tetap ingin bicara dengan saya di tempat ini?”

Aku membayangkanya. Berbicara dengan serigala raksasa di palung sungai yang gelap … membayangkannya saja membuatku merinding, bisa gawat bila ada orang yang melihat ini.

“… Baiklah.”

Aku hanya bisa mengangguk.

“Bagus, bagus.”

Dengan senangnya ia mengangguk.

“… Apa?”

“Pertama, bisakah kausiapkan pakaian untuk saya …, tentunya pakaian perempuan loh.”

“Hah?”

Tooya tercengang, dan Kuroe memandangnya senang.

6 thoughts on “Prolog – Kontraknya dengan Pemakan Manusia”

Leave a Reply